Agenda besar pemerintahan Prabowo-Gibran dirangkum dalam delapan misi utama yang disebut Asta Cita. Kerangka ini menjadi penopang arah kebijakan Presiden dan Wakil Presiden dalam mendorong perubahan di berbagai sektor, mulai dari ideologi negara, pertahanan, ekonomi, hingga pembangunan manusia dan pemerataan kesejahteraan.
Di tengah kebutuhan memperkuat fondasi nasional, Asta Cita diposisikan bukan sekadar daftar program, melainkan peta kerja yang menautkan kepentingan politik, ekonomi, dan sosial. Delapan misi tersebut disusun untuk menjawab tantangan jangka pendek sekaligus membangun arah pembangunan yang lebih panjang.
Delapan Misi Asta Cita Prabowo-Gibran
Berikut isi delapan misi Asta Cita yang menjadi visi Presiden dan Wakil Presiden:
- Memperkokoh ideologi Pancasila, demokrasi, dan hak asasi manusia (HAM).
- Memantapkan sistem pertahanan keamanan negara dan mendorong kemandirian bangsa melalui swasembada pangan, energi, air, ekonomi syariah, ekonomi digital, ekonomi hijau, dan ekonomi biru.
- Melanjutkan pengembangan infrastruktur dan meningkatkan lapangan kerja yang berkualitas, mendorong kewirausahaan, mengembangkan industri kreatif, serta mengembangkan agro-maritim industri di sentra produksi melalui peran aktif koperasi.
- Memperkuat pembangunan sumber daya manusia (SDM), sains, teknologi, pendidikan, kesehatan, prestasi olahraga, kesetaraan gender, serta penguatan peran perempuan, pemuda (generasi milenial dan generasi Z), dan penyandang disabilitas.
- Melanjutkan hilirisasi dan mengembangkan industri berbasis sumber daya alam untuk meningkatkan nilai tambah di dalam negeri.
- Membangun dari desa dan dari bawah untuk pertumbuhan ekonomi, pemerataan ekonomi, dan pemberantasan kemiskinan.
- Memperkuat penyelarasan kehidupan yang harmonis dengan lingkungan, alam, dan budaya, serta peningkatan toleransi antarumat beragama untuk mencapai masyarakat yang adil dan makmur.
- Memperkuat pemerataan pembangunan dan memperluas akses kesejahteraan bagi seluruh lapisan masyarakat.
Fokus pada kemandirian dan pemerataan
Jika dicermati, Asta Cita menempatkan kemandirian nasional sebagai benang merah utama. Swasembada pangan, energi, dan air menjadi bagian dari upaya memperkuat ketahanan negara, sementara pengembangan ekonomi digital, hijau, dan biru menunjukkan dorongan untuk mengikuti perubahan ekonomi global.
Di sisi lain, pembangunan dari desa dan penguatan sentra produksi menegaskan bahwa pemerataan ekonomi tetap menjadi sasaran penting. Melalui pendekatan ini, pertumbuhan diharapkan tidak hanya terkonsentrasi di kota besar, tetapi merata hingga ke wilayah akar rumput.
SDM, industri, dan nilai tambah
Asta Cita juga memberi penekanan kuat pada pembangunan manusia. Pendidikan, kesehatan, sains, teknologi, dan olahraga ditempatkan sejajar dengan isu kesetaraan gender dan penguatan peran perempuan, pemuda, serta penyandang disabilitas. Artinya, pembangunan tidak hanya diukur dari infrastruktur fisik, tetapi juga kualitas manusianya.
Selain itu, hilirisasi dan pengembangan industri berbasis sumber daya alam diarahkan untuk menahan nilai tambah agar tidak lepas ke luar negeri. Dengan begitu, hasil pengolahan sumber daya diharapkan memberi dampak lebih besar bagi ekonomi nasional dan lapangan kerja di dalam negeri.
(SENOPATI)
