Buku Politik Gemoy: Manifestasi Keberpihakan Prabowo-Gibran terhadap Anak Muda

Jakarta – Di tengah sorotan soal arah kebijakan ekonomi dan masa depan pembangunan nasional, calon presiden nomor urut 2 Prabowo Subianto kembali menegaskan pilihannya: keberpihakan pada masyarakat kecil, terutama anak-anak dari keluarga yang ekonominya serba terbatas. Dalam forum Dialog Pers dan Capres di Gedung Dewan Pers, Jakarta, Kamis (4/1/2024), Prabowo menempatkan program makan siang dan susu gratis bukan sekadar janji kampanye, melainkan kebutuhan mendesak yang harus segera dijalankan.

Program Anak Sekolah Jadi Sorotan Utama

Prabowo menyebut langkah itu sebagai bagian dari tanggung jawab negara untuk hadir langsung di tengah persoalan dasar warga. Menurut dia, bantuan yang menyentuh kebutuhan harian jauh lebih penting ketimbang wacana yang berhenti di atas kertas. Ia menekankan bahwa anak-anak yang tumbuh dalam keterbatasan ekonomi perlu mendapat dukungan nyata agar tidak tertinggal sejak dini.

“Ini soal necessity, ini soal masa depan bangsa,” ujarnya.

Dalam pandangannya, pemberian makanan di sekolah bisa menjadi bagian dari skema bantuan sosial yang manfaatnya terasa langsung. Prabowo juga menyebut Indonesia memiliki kemampuan untuk menjalankan program tersebut, apalagi jika dilihat dari besarnya anggaran yang selama ini dialokasikan untuk bantuan sosial dan pendidikan, yang nilainya disebut mencapai triliunan rupiah.

Anggaran Besar Bukan Alasan untuk Pesimis

Selain membahas program makan siang gratis, Prabowo juga menyinggung besarnya kebutuhan dana untuk pembangunan Ibu Kota Negara (IKN). Ia menilai proyek tersebut harus dipahami sebagai investasi jangka panjang yang memang menuntut modal besar, bukan beban yang otomatis membuat Indonesia tak sanggup bergerak.

Dengan nada tegas, Prabowo menolak anggapan bahwa Indonesia tidak mampu menanggung proyek-proyek besar. “We can manage it. Kita jangan termakan brainwashing bahwa Indonesia negara miskin,” katanya.

Keyakinan pada Kapasitas Negara

Dalam forum yang digelar oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) itu, Prabowo berusaha mengaitkan dua hal sekaligus: perlunya keberpihakan kepada anak muda lewat kebijakan sosial, dan pentingnya optimisme terhadap kemampuan negara membiayai pembangunan besar seperti IKN. Baginya, kedua agenda tersebut bukan saling bertentangan, melainkan sama-sama menunjukkan bahwa Indonesia punya ruang untuk bergerak jika kebijakan diarahkan dengan tepat.

Ia juga menegaskan, narasi negatif soal kemampuan Indonesia mengelola proyek besar tidak boleh dibiarkan membentuk cara pandang publik. Dalam kerangka itu, program unggulan Prabowo-Gibran dan proyek strategis negara diposisikan sebagai bukti bahwa pemerintah harus berani mengambil keputusan yang langsung menyentuh kebutuhan rakyat sekaligus memikirkan investasi masa depan. (SENOPATI)

Source link