Berita  

Dugderan 2025: Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng dan Pesona Ramadan

Dugderan 2025, Panggung Awal Agustina Wilujeng di Hadapan Warga Semarang

Semarang kembali bersiap menyambut tradisi tahunan yang selalu punya tempat khusus di hati warganya. Dugderan 2025 bukan hanya penanda datangnya Ramadan, tetapi juga menjadi momen penting bagi Wali Kota Semarang terpilih, Agustina Wilujeng Pramestuti, untuk tampil di hadapan masyarakat dalam suasana yang sarat simbol budaya dan kebersamaan.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang, R Wing Wiyarso, menjelaskan bahwa prosesi tahun ini memang punya makna ganda. Di satu sisi, Dugderan tetap menjalankan fungsinya sebagai tradisi penyambut bulan suci. Di sisi lain, rangkaian acara ini juga menjadi ruang perkenalan Agustina setelah pelantikan, sekaligus menandai awal kepemimpinannya di Kota Semarang.

Digelar 28 Februari karena Agustina Masih Mengikuti Retreat di Magelang

Semula, prosesi Dugderan dijadwalkan berlangsung pada 27 Februari 2025. Namun, jadwal itu bergeser menjadi 28 Februari 2025 karena Agustina masih menjalani retreat kepala daerah di Akademi Militer (Akmil) Magelang. Pergeseran waktu ini membuat penyelenggaraan disesuaikan agar momentum tradisi tetap berjalan tanpa mengurangi peran wali kota terpilih dalam acara tersebut.

Dalam prosesi itu, Agustina akan tampil dengan peran simbolik sebagai Kanjeng Mas Ayu Tumenggung Purbodiningrum. Kehadirannya di Halaman Balai Kota Semarang diposisikan sebagai bagian dari upacara adat yang sudah lama menjadi ciri khas kota ini, sekaligus mempertegas hubungan antara pemerintah kota dan warga dalam suasana perayaan menjelang Ramadan.

Bhineka Tunggal Budaya Jadi Tema Harmoni Dugder 2025

Tahun ini, Dugderan mengusung tema Bhineka Tunggal Budaya dalam rangkaian Harmoni Dugder 2025. Tema tersebut menegaskan bahwa tradisi ini bukan sekadar seremoni, melainkan juga ruang pertemuan berbagai unsur budaya yang hidup di Semarang. Dari simbol, pertunjukan, hingga partisipasi masyarakat, semuanya dirangkai untuk memperlihatkan warna khas kota yang majemuk.

Acara akan dibuka dengan pemukulan beduk sebagai tanda dimulainya pawai peserta Dugder. Setelah itu, suasana Balai Kota Semarang akan diramaikan oleh penampilan flash mob sekitar 4 ribu anak sekolah yang ikut ambil bagian dalam prosesi. Kehadiran ribuan pelajar ini menambah energi pada perayaan sekaligus menunjukkan bahwa Dugderan tetap hidup sebagai tradisi yang diwariskan lintas generasi.

Selain menjadi penanda datangnya Ramadan, Dugderan 2025 juga memperlihatkan bagaimana tradisi lokal bisa tetap relevan di tengah perubahan zaman. Di Semarang, prosesi ini bukan hanya soal ritual tahunan, tetapi juga soal identitas kota yang dirawat bersama, dari halaman balai kota hingga partisipasi warga yang terus menjaga denyut kebudayaannya.