Warga Jakarta Selatan yang melintas di Jalan TB Simatupang belakangan ini bukan hanya menghadapi macet, tetapi juga antrean panjang yang seperti tak putus dari pagi hingga malam. Ruas jalan yang selama ini dikenal sebagai jalur penghubung penting di selatan ibu kota kini berubah menjadi titik rawan tersendat, terutama sejak pekerjaan besar di badan jalan mulai menggerus kapasitas lintasan kendaraan.
Proyek Pipa Jadi Pemicu Utama
Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta, Syafrin Liputo, menjelaskan bahwa kemacetan parah di TB Simatupang terutama dipicu proyek pemasangan pipa air limbah. Pekerjaan tersebut dikerjakan oleh PD PAL Jaya bersama kontraktor PT Rosa Lisca dan membentang sepanjang 2,5 kilometer, dari Simpang Cilandak KKO hingga Simpang RS Fatmawati.
Karena ada satu lajur yang harus ditutup, arus kendaraan otomatis menyempit. Di titik-titik tertentu, pengendara hanya bisa melaju lewat satu atau dua lajur saja. Kondisi ini membuat volume kendaraan yang besar tidak lagi sebanding dengan ruang jalan yang tersedia, sehingga penumpukan tak terhindarkan.
Keluhan Pengguna Jalan Makin Meluas
Situasi tersebut terasa langsung bagi banyak pengguna jalan. Pengendara mobil pribadi, pekerja kantoran, hingga pengemudi transportasi daring sama-sama mengeluhkan waktu tempuh yang membengkak dan energi yang terkuras di jalan. Kemacetan yang semula diperkirakan hanya muncul pada jam sibuk, kini justru berlangsung hampir sepanjang hari.
Pemerintah memperkirakan kondisi ini masih akan berjalan bertahap sampai akhir 2025, seiring pengerjaan proyek yang belum rampung. Artinya, TB Simatupang berpotensi tetap menjadi salah satu titik paling padat di Jakarta Selatan dalam beberapa bulan ke depan.
Dampak ke Kebijakan Lalu Lintas
Data kinerja lalu lintas dari Dinas Perhubungan DKI Jakarta juga menunjukkan kenaikan volume kendaraan hingga 6,25%. Lonjakan ini ikut mendorong Pemprov DKI memperluas kebijakan ganjil genap menjadi 25 ruas jalan. Langkah tersebut menjadi salah satu upaya untuk menekan beban lalu lintas di tengah kondisi jalan yang sudah terlanjur menyempit akibat proyek.
Dengan proyek yang masih berjalan dan arus kendaraan yang terus meningkat, TB Simatupang kini bukan sekadar jalur padat, melainkan cermin rapuhnya keseimbangan antara pembangunan infrastruktur dan daya tampung jalan di Jakarta.
Source link












