Ketika majalah Time menerbitkan cerita sampul tentang “Cyber Porn” pada Juli 1995, perdebatan tentang bahaya pornografi siber bagi anak menjadi topik hangat. Namun, setelah tiga dekade berlalu, perlawanan terhadap pornografi belum menghasilkan dampak yang diinginkan. Industri hiburan dewasa diproyeksikan terus berkembang nilainya dari US$58,4 miliar pada 2022 menjadi US$96,2 miliar pada 2032. Di era teknologi canggih seperti AI, VR/AR, dan layanan live camming, batas antara dunia nyata dan virtual semakin kabur. Konten pornografi semakin sulit untuk diberantas karena berbagai penawaran yang tersedia.
Meskipun kritik terhadap pornografi berfokus pada representasi yang tidak realistis, konten yang tak terkendali, dan stereotip negatif, pandangan baru mulai muncul. Pengampu podcast “Sex, Tech, and Spirituality”, Kaamna Bhojwani, menekankan bahwa pendekatan yang lebih efektif adalah dengan mengedukasi tentang efek positif dari pornografi. Mengingat hingga 73% anak usia 17 tahun ke bawah terpapar pornografi online, penting untuk memahami dampak konsumsi dari perspektif yang berbeda.
Sebagai contoh, penelitian menunjukkan bahwa pasangan yang menonton pornografi bersama untuk memperluas cakrawala seksual cenderung memiliki frekuensi hubungan seksual yang lebih tinggi dan kepuasan seksual yang lebih baik. Namun, dampak konsumsi pornografi juga dipengaruhi oleh motivasi di balik menontonnya. Munculnya pornografi etis sebagai solusi potensial menunjukkan upaya untuk menciptakan konten dewasa yang konsensual, menghormati pemeran, dan memperlihatkan beragam tubuh dan preferensi seksual.
Dalam pandangan associate professor dari University of Sydney, Melissa Kang, pornografi online telah menjadi “pendidik seks otomatis” bagi banyak kaum muda. Sebagai gantinya, mendidik tentang pornografi yang etis, mengenali potensi penggunaan yang sehat, dan memahami dampak konsumsi secara menyeluruh mungkin menjadi kunci untuk menjembatani kesenjangan antara keberadaan pornografi dan dampaknya dalam kehidupan nyata.
