Menelusuri Tren Shrekking dalam Pacaran: Apakah Ini Toksik?

Pernah mendengar istilah shrekking yang menjadi tren belakangan ini? Istilah ini sebenarnya tidak merujuk pada sesuatu yang positif. Menurut Bruce Y. Lee, shrekking adalah praktik sengaja berpacaran dengan seseorang yang dianggap kurang menarik dibandingkan kita, dengan tujuan untuk mempertahankan kendali dalam hubungan. Dengan harapan pasangan yang dianggap ‘kurang’ itu akan memuja dan tidak menyakiti kita.

Ternyata, tren shrekking bukan hal baru. Selama ini mungkin hanya jarang dieksplisitkan atau lebih sering merupakan penilaian dari orang lain terhadap hubungan yang dianggap tidak seimbang. Tren ini menjadi viral di media sosial karena banyak orang merasa terhubung dengan fenomena shrekking di tengah frustrasi terhadap norma kencan modern.

Meskipun sudah ada sejak lama, praktik shrekking kembali mendapat sorotan khusus di media sosial saat ini. Fenomena ini sebenarnya merupakan upaya untuk melindungi diri sendiri, bukan perkara mencari pasangan yang ‘lebih rendah’. Untuk menghindari risiko terus-menerus dinilai negatif oleh orang lain, banyak perempuan generasi Z memilih untuk membingkai hubungan tersebut sebagai pilihan sadar, bukan sebagai tanda ketidakpercayaan diri.

Namun, shrekking memiliki dampak buruk yang perlu diperhatikan. Salah satu risikonya adalah perilaku dominan dan kontrol yang bisa muncul dalam hubungan. Dengan berpegang pada prinsip bahwa pasangan ‘di bawah standar’ akan terus bersyukur memiliki kita, hubungan bisa terdistorsi ke dalam pola yang tidak sehat. Oleh karena itu, penting untuk memahami perbedaan antara shrekking dengan kompromi atau penilaian positif terhadap seseorang.

Selain itu, menentukan posisi seseorang dalam hierarki kencan tidak semudah yang terlihat. Setiap orang memiliki standar dan nilai yang berbeda, serta kemungkinan perubahan posisi seiring berjalannya waktu. Oleh karena itu, penting untuk tidak terjebak dalam pemikiran bahwa seseorang ‘di bawah standar’ dan menghindari praktik penuh risiko seperti shrekking. Dengan memahami esensi dari hubungan yang sehat, kita dapat mencegah terjadinya distorsi dalam interaksi dan komitmen.

Source link