Menjadi orang tua sering dianggap sebagai puncak kehidupan pasangan. Namun, perubahan dalam cara pasangan mencintai satu sama lain tidak selalu mudah. Penelitian psikologi memberikan hasil yang berbeda-beda mengenai dampak memiliki anak terhadap hubungan romantis. Sebagian menyatakan bahwa menjadi orang tua mempererat ikatan antara pasangan, sementara yang lain menemukan bahwa pasangan tanpa anak cenderung memiliki hubungan yang lebih stabil karena beban emosional dan kelelahan mengikis keintiman.
Sebuah studi terbaru dari Universitas Wroclaw, Polandia, yang diterbitkan di jurnal Human Nature, mengeksplorasi hubungan antara jumlah anak dan tingkat cinta romantis. Analisis data dari lebih dari 3.100 peserta di 25 negara menunjukkan bahwa pasangan yang memiliki anak melaporkan tingkat cinta romantis yang lebih rendah daripada pasangan tanpa anak. Temuan ini berlaku secara konsisten di berbagai konteks budaya.
Professor ilmu psikologi di MSH Medical School, Hamburg, Sebastian Ocklenburg, menyatakan bahwa menjadi orang tua membawa kebahagiaan baru tetapi juga menguji kedekatan emosional pasangan. Tekanan finansial, kurang tidur, dan kelelahan emosional yang disebabkan oleh pengasuhan dapat mengurangi keintiman dan daya tarik fisik antara pasangan. Namun, penting untuk diingat bahwa menjaga cinta setelah memiliki anak adalah proses yang membutuhkan kesadaran dan usaha.
Hasil penelitian ini menegaskan bahwa kehadiran anak—bukan jumlahnya—berhubungan negatif dengan tingkat cinta romantis antara pasangan di masyarakat modern. Menjaga hubungan romantis setelah menjadi orang tua melibatkan upaya dan komitmen yang kuat, melewati tantangan-tantangan yang hadir bersama peran baru sebagai orang tua. Melalui kesadaran dan usaha bersama, cinta romantis di tengah kesibukan mengasuh anak tetap bisa terjaga.
