Berita  

Menteri Hut Raja Juli Jawab Isu Pembabatan Hutan di Sumatera

Kawasan Sungai Batang Toru di Sumatera Utara kembali jadi perhatian setelah potret kayu glondongan yang terseret banjir bandang ramai beredar di media sosial. Gambar itu bukan sekadar memperlihatkan derasnya arus air, tetapi juga memunculkan pertanyaan besar tentang kondisi hutan dan perubahan bentang alam di wilayah tersebut.

SHI Soroti Akar Masalah di Batang Toru

Sarekat Hijau Indonesia (SHI) menilai rangkaian bencana yang kerap terjadi di kawasan itu tidak bisa dibaca sebagai peristiwa alam semata. Menurut SHI, kerusakan ekologis yang berlangsung lama ikut memperbesar risiko banjir, terutama sejak ekspansi industri ekstraktif mulai masuk pada era 1990-an.

Aktivitas yang disorot mencakup perkebunan sawit, pertambangan emas, hingga pembangunan pembangkit listrik tenaga air (PLTA). Ketiga sektor ini disebut telah mengubah struktur ruang dan fungsi lahan di Batang Toru secara signifikan.

Lahan Bergeser, Hutan Menyusut

Ketua DPW SHI Sumatera Utara, Hendra Hasibuan, mengatakan sebelum investasi besar masuk, masyarakat Batang Toru hidup berdampingan dengan alam dalam pola sosial-ekologis yang relatif seimbang. Namun, situasi itu berubah ketika lahan mulai tergusur dan hutan ditebang untuk kepentingan skala besar.

Hendra menyebut perubahan fungsi lahan menjadi Hak Guna Usaha (HGU) turut mendorong ketidakseimbangan lingkungan. Dalam kondisi seperti itu, daya dukung alam melemah, sementara potensi bencana justru meningkat, termasuk banjir bandang yang kini berulang menjadi ancaman.

Seruan Menjaga Kearifan Lokal

Di tengah sorotan terhadap kerusakan lingkungan, SHI menekankan pentingnya menjaga kearifan lokal dan memastikan pengelolaan lahan dilakukan dengan lebih bijaksana. Menurut mereka, tanpa langkah serius untuk memulihkan ekosistem, kawasan seperti Batang Toru akan terus berada dalam situasi rawan.

Viralnya kayu glondongan yang terbawa banjir menjadi pengingat bahwa persoalan di Batang Toru tidak berhenti pada derasnya air saat bencana datang, tetapi juga pada apa yang telah terjadi di hulu jauh sebelum banjir itu melanda.

Source link