Kawasan mangrove Sungai Tiram di Desa Penaga, Kecamatan Teluk Bintan, Kabupaten Bintan, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), sedang menarik perhatian sebagai kawasan budidaya perikanan berbasis silvofishery. Program ini diinisiasi oleh Naoto Akune, seorang pecinta mangrove asal Jepang, yang melihat potensi Sungai Tiram sebagai lahan budi daya berkelanjutan yang unggul. Silvofishery merupakan metode ramah lingkungan yang menggabungkan pelestarian mangrove dengan kegiatan perikanan produktif. Akune menjelaskan bahwa konsep silvofishery telah terbukti efektif di berbagai negara, termasuk Jepang dan Asia Tenggara. Dalam metode ini, hutan mangrove menjadi bagian utama ekosistem, dengan sebagian area digunakan untuk budidaya ikan, udang, dan kepiting. Mangrove memiliki peran penting dalam menjaga ekosistem dan mencegah bencana hidrometeorologi, karena berfungsi sebagai penyaring alami, menjaga kualitas air, dan menyediakan nutrisi bagi biota. Melalui sistem silvofishery, kebutuhan pakan tambahan dan obat-obatan dalam budidaya perikanan dapat ditekan, sehingga menjadi lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan. Akune menekankan pentingnya menjaga ekosistem Sungai Tiram untuk memastikan keberlanjutan budidaya perikanan di kawasan tersebut.
Sungai Tiram Bintan: Potensi Kawasan Budidaya Ikan dan Wisata
Read Also
Recommendation for You

Kementerian Lingkungan Hidup (KLH)/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH) telah menetapkan Eks Kepala Dinas Lingkungan Hidup…

Setiap tanggal 21 April, Hari Kartini diperingati untuk menghormati kelahiran Kartini yang terkenal karena perjuangannya…

Polres Badung, Bali telah mengungkap kasus dugaan penggelapan MacBook dengan modus pembayaran dalam bentuk cash…

Badan Gizi Nasional (BGN) mengungkapkan berbagai jenis makanan dalam menu Makan Bergizi Gratis (MBG) yang…








