Di tengah padatnya populasi manusia dan desakan pembangunan di Pulau Jawa, kawasan Megamendung di Kabupaten Bogor menjadi gambaran langka bahwa alam masih memiliki ruang bertahan. Melalui serangkaian penelitian terintegrasi yang dilakukan oleh Paseban Foundation, keberadaan lima spesies primata endemik Jawa telah terkonfirmasi masih dapat hidup berdampingan di lanskap Megamendung yang relatif kecil. Pemantauan itu mencakup eksplorasi lapangan, observasi visual, dan instalasi kamera jebak guna merekam aktivitas fauna liar.
Analisis ekologi tersebut diumumkan dalam acara tahunan Paseban Foundation di Jakarta yang sekaligus menandai perayaan Hari Konservasi Alam Nasional serta dua tahun berdirinya organisasi ini. Wahdi Azmi selaku Direktur Eksekutif menyampaikan keprihatinan bahwa Pulau Jawa kini didominasi manusia, mengakibatkan habitat alami makin terpinggirkan.
Tetapi secara nyata, Megamendung tetap menjadi kantong keragaman hayati dengan lima primata masih bertahan di satu area, menegaskan signifikansi kawasan ini sebagai kawasan kunci untuk konservasi. Temuan juga menyertakan keberadaan satwa penting seperti Elang Jawa dan Macan Tutul Jawa, serta ragam flora dan fauna unik dataran tinggi tropis yang memperkuat kekayaan ekosistem kawasan.
Dengan lokasinya yang strategis di pinggiran Jakarta dan terhubung ke zona Cagar Biosfer Cibodas, Megamendung dihadapkan pada tekanan tinggi akibat intensitas kegiatan manusia seperti pembangunan, wisata, dan ekspansi permukiman. Zona biosfer didesain untuk menyeimbangkan kebutuhan proteksi ekologis dengan aktivitas manusia lewat kombinasi area inti pelestarian, buffer zone, dan wilayah kehidupan sosial-ekonomi setempat.
Keberlanjutan keanekaragaman hayati di Megamendung tentu mustahil tanpa keutuhan ekosistem yang sehat: dari pohon-pohon peneduh yang menopang kehidupan, sistem aliran air, areal jelajah satwa, hingga hubungan alami antara hutan dan lahan pertanian yang saling bergantung. Menurut Wiratno, dewan penasihat yayasan, fenomena alam seperti pergerakan hewan dan aliran air tidak mengenal batas administratif, sehingga pendekatan pengelolaan konservasi harus lintas sektor dan wilayah.
Implementasi konservasi kolaboratif pun ditekankan dengan menghubungkan pemerintah daerah, masyarakat, swasta, dan akademisi dalam satu sistem manajemen lanskap yang komprehensif. Salah satu contoh nyata yaitu gerakan penghijauan yang berhasil menanam puluhan ribu tanaman endemik lokal sejak 2024, guna memulihkan karakter vegetasi Megamendung agar menyerupai keadaan alaminya dan memperkuat cadangan karbon ekosistem.
Selain aksi langsung di habitat satwa, Paseban Foundation juga mulai memperkuat pelestarian ex-situ, misalnya mengembangkan penangkaran dan pengembangbiakan jenis-jenis hewan tertentu di luar habitat alami mereka. Upaya ini dirancang untuk mendukung populasi satwa liar yang rentan punah. Mereka telah memperoleh izin pembiakan non-komersial burung dan mamalia. Hasil awal dari program penangkaran ini telah melahirkan tiga anak rusa, yang nantinya akan direintroduksi sebagai bagian dari proses restocking fauna asli Megamendung.
Namun, proses pemulangan hewan ke alam tidak sesederhana memindahkan individu yang tumbuh di penangkaran ke hutan. Proses tersebut memerlukan tahapan pemulihan naluri bertahan hidup, penilaian kesiapan habitat, serta pemantauan berkelanjutan untuk memastikan hewan mampu beradaptasi dan ekosistem penerima tidak terganggu.
Andy Utama, pendiri Paseban Foundation, menyadari bahwa proses pemulihan ekologi kawasan Megamendung adalah proyek jangka panjang, jauh melampaui masa hidup satu generasi. Oleh karena itu diluncurkan Megamendung Century Initiative, langkah visioner untuk mengembalikan fungsi ekologi kawasan ke kondisi mendekati aslinya selama satu hingga dua abad mendatang. Orientasinya bukan nostalgia masa lalu, melainkan pemulihan ketahanan lingkungan: keutuhan habitat, interaksi biotik, kesehatan vegetasi, kelimpahan sumber air, dan harmonisasi kehidupan warga sekitar.
Andy berpesan, misi konservasi adalah investasi lintas generasi. “Kerja-kerja seperti ini tidak boleh terputus. Harus terus berjalan dan diwariskan. Hanya dengan pengelolaan jangka panjang serta pelibatan generasi berikutnya, kelestarian Megamendung dapat terjaga,” tegasnya.
Sumber: 5 Primata Jawa Bertahan Di Megamendung, Paseban Foundation Dorong Pemulihan Ekosistem
Sumber: Kerap Terdesak Pemukiman, Lima Primata Jawa Ditemukan Hidup Bersama Di Alam Megamendung Bogor












