Ada banyak penyakit langka yang membuat seseorang kehilangan kemampuan untuk merasakan rasa takut. Salah satunya adalah penyakit Urbach-Wiethe, yang hanya diderita oleh sekitar 400 orang di seluruh dunia. Hal ini terjadi karena mutasi gen ECM1 yang merusak amigdala dalam otak, menghancurkan kemampuan seseorang untuk merasakan ketakutan.
Sebuah contoh kasus adalah seorang pasien yang dikenal sebagai SM, yang telah menjadi subjek studi ilmiah sejak pertengahan 1980-an. SM tidak hanya kehilangan kemampuan untuk merasakan rasa takut, tetapi juga menunjukkan ketidaktertarikan atau bahkan dorongan untuk mendekati ancaman. Hal ini menimbulkan pertanyaan tentang peran amigdala dalam merespons ancaman dan rasa takut.
Penelitian menemukan bahwa amigdala memiliki dua jalur rasa takut yang berbeda tergantung pada ancaman eksternal atau internal. Untuk ancaman eksternal, amigdala mengatur respons fight-or-flight secara klasik dengan melepaskan kortisol dan adrenalin ke aliran darah. Namun, untuk ancaman internal seperti meningkatnya kadar CO2 dalam darah, peran amigdala berbeda.
Penting untuk dicatat bahwa meskipun kasus SM menunjukkan kerusakan pada amigdala, setiap orang merespons cedera otak dengan cara yang berbeda. Keterlibatan otak lain dan usia saat kerusakan terjadi dapat memengaruhi cara seseorang pulih. Namun, cerita unik SM menyoroti pentingnya rasa takut dalam evolusi manusia dan hewan lainnya untuk bertahan hidup.
Kisahnya juga menimbulkan pertanyaan menarik tentang relevansi rasa takut dalam kehidupan modern. Ketika seseorang seperti SM dapat hidup tanpa amigdala, apakah emosi primal seperti rasa takut masih diperlukan di dunia yang semakin kompleks ini? Semua pertanyaan ini merupakan bagian dari diskusi yang mendalam tentang peran amigdala dan evolusi emosi manusia.
