Menghindari Kebiasaan Buruk demi Menjaga Kesehatan Jantung
Kesehatan jantung sering kali dianggap hanya soal makanan atau olahraga berat. Padahal, kebiasaan kecil yang dilakukan setiap hari justru bisa ikut menentukan seberapa besar risiko seseorang menghadapi penyakit jantung. Dari kurang bergerak hingga sering merasa sendiri, sejumlah pola hidup yang tampak sepele ternyata dapat memberi beban tambahan pada organ vital ini.
Aktivitas fisik yang minim ikut menaikkan risiko
Christopher Broyd, konsultan kardiologi di Rumah Sakit Nuffield Health Brighton, menegaskan bahwa kurangnya aktivitas fisik merupakan salah satu kebiasaan yang paling merugikan bagi kesehatan jantung. Menurut dia, tubuh yang jarang digerakkan cenderung lebih rentan terhadap gangguan jantung dalam jangka panjang.
Ia menyarankan langkah sederhana untuk memulai perubahan, seperti berjalan kaki, melakukan peregangan, atau bersepeda statis. Kuncinya, kata Broyd, adalah memilih jenis olahraga yang memang disukai agar kebiasaan itu lebih mudah dijalankan secara konsisten.
Stres, tidur buruk, dan kurang sinar matahari
Selain minim gerak, stres kronis juga disebut bisa berdampak buruk pada jantung. Tekanan yang berlangsung terus-menerus tidak hanya memengaruhi kondisi mental, tetapi juga dapat mendorong seseorang menjalani pola koping yang tidak sehat. Dalam jangka panjang, hal ini ikut memperburuk kesehatan tubuh secara keseluruhan.
Broyd juga menyoroti pentingnya tidur. Kurang tidur atau kualitas tidur yang buruk dapat memberi efek negatif pada jantung. Karena itu, ia menganjurkan jadwal tidur yang konsisten dan menghindari aktivitas yang terlalu merangsang menjelang waktu istirahat.
Di sisi lain, paparan sinar matahari juga tidak boleh diabaikan. Terlalu sedikit terkena sinar matahari bisa memicu defisiensi vitamin D, yang pada akhirnya ikut memengaruhi kondisi kesehatan secara umum, termasuk kesehatan jantung.
Kesepian bukan sekadar urusan perasaan
Faktor lain yang kerap luput diperhatikan adalah isolasi sosial. Broyd menyebut kesepian dapat meningkatkan risiko penyakit jantung, sehingga hubungan sosial perlu dijaga sebagai bagian dari upaya merawat kesehatan. Memiliki jaringan dukungan sosial dapat membantu seseorang merasa lebih seimbang dan lebih kuat menghadapi tekanan hidup.
Dengan kata lain, menjaga jantung bukan hanya soal menghindari makanan tertentu atau rutin memeriksa kondisi tubuh. Cara seseorang bergerak, tidur, mengelola stres, hingga menjaga relasi dengan orang lain juga punya peran besar dalam menentukan kesehatan jantung di masa depan.
Source link
