Di balik kemudahan makanan kemasan yang serba praktis, ada temuan yang kembali mengingatkan soal sisi gelapnya: makanan ultra-proses bisa memicu pola konsumsi yang menyerupai kecanduan. Penelitian terbaru yang terbit di jurnal Addiction menunjukkan bahwa generasi X, terutama perempuan, termasuk kelompok yang paling banyak memenuhi kriteria kecanduan terhadap makanan jenis ini.
Generasi yang tumbuh bersama makanan ultra-proses
Generasi X, yakni mereka yang lahir antara 1965 dan 1980, disebut sebagai generasi pertama di Amerika Serikat yang besar bersama makanan ultra-proses. Produk-produk ini dipenuhi lemak, garam, gula, dan perasa tambahan, lalu dipasarkan secara agresif sejak mereka masih anak-anak dan remaja. Dalam studi tersebut, para peneliti menilai lebih dari 2.000 responden lanjut usia di Amerika Serikat dengan menggunakan Yale Food Addiction Scale 2.0.
Hasilnya memperlihatkan bahwa tingkat kecanduan makanan ultra-proses lebih tinggi pada generasi X dan generasi akhir baby boomer dibandingkan generasi sebelumnya. Temuan ini menguatkan dugaan bahwa paparan sejak usia muda bisa membentuk kebiasaan makan yang sulit dilepaskan hingga usia lanjut.
Perempuan lanjut usia dinilai lebih rentan
Salah satu sorotan utama penelitian ini adalah kerentanan perempuan lanjut usia. Peneliti menduga, salah satu pemicunya berasal dari gencarnya promosi makanan ultra-proses versi “diet” pada era 1980-an. Produk-produk tersebut dikemas seolah-olah lebih sehat, padahal tetap berpotensi memperkuat pola makan yang adiktif.
Dengan kata lain, label sehat tidak selalu berarti aman dari risiko ketergantungan. Justru, pendekatan pemasaran seperti itu dapat membuat konsumen merasa sedang memilih opsi yang lebih baik, padahal efek jangka panjangnya bisa merugikan.
Dampaknya tak hanya soal pola makan
Studi ini juga menyinggung kaitan kecanduan makanan ultra-proses dengan kondisi kesehatan dan isolasi sosial. Mereka yang mengalami masalah fisik maupun mental tampak lebih rentan terjebak dalam pola konsumsi tersebut. Karena itu, peneliti menekankan pentingnya pemberian informasi sejak dini agar risiko kecanduan bisa ditekan di tingkat masyarakat.
Temuan ini menjadi pengingat bahwa makanan ultra-proses bukan sekadar soal pilihan praktis di meja makan. Bagi perempuan dewasa, terutama generasi X, perhatian terhadap frekuensi konsumsi menjadi penting karena dampaknya dapat merembet ke kesehatan, kebiasaan makan, dan kualitas hidup secara keseluruhan.
Source link
