Dromomania: Hasrat Berkelana yang Tak Terbendung

Dromomania: Hasrat Berkelana yang Bisa Menjadi Batas Tipis antara Pencarian Diri dan Kehancuran

Keinginan untuk bepergian sering dianggap sebagai tanda jiwa petualang. Namun, bagi sebagian orang, dorongan itu bisa berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih gelap: kebutuhan yang sulit dikendalikan untuk terus pergi, menjauh, dan berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Fenomena ini dikenal sebagai dromomania, dan kisah Bethany Yeiser menjadi salah satu gambaran paling nyata tentang bagaimana hasrat berkelana dapat muncul bersamaan dengan gangguan mental yang serius.

Awal Gejala yang Tampak seperti Keinginan Biasa

Bethany Yeiser, penulis buku Mind Estranged: My Journey from Schizophrenia and Homelessness to Recovery (2014), mengenang masa sebelum dirinya didiagnosis skizofrenia pada 2007, saat usianya 25 tahun. Tanda pertama yang ia rasakan bukan hal yang langsung tampak mencurigakan, melainkan dorongan kuat untuk terus melakukan perjalanan. Ia sempat pergi ke China bersama teman-temannya, lalu melanjutkan perjalanan ke Nairobi, Kenya, dan tinggal di sebuah komunitas terpencil.

Setelah kembali dari Afrika, Yeiser mengalami kejutan budaya yang besar. Ia merasa bersalah karena memiliki kulkas, kamar yang nyaman, dan pakaian yang cukup. Perasaan itu bukan membuatnya tenang, melainkan mendorongnya untuk segera menyusun rencana perjalanan berikutnya, kali ini untuk bertemu misionaris Amerika di Thailand. Dari luar, itu mungkin terlihat seperti semangat menjelajah. Namun bagi Yeiser, dorongan tersebut perlahan menguasai hidupnya.

Ketika Perjalanan Mengambil Alih Hidup

Obsesi untuk terus bepergian berdampak langsung pada pendidikannya di universitas. Ia yang semula dikenal sebagai mahasiswa berprestasi akhirnya kehilangan arah, hingga hidup sebagai tunawisma. Perubahan itu menunjukkan betapa tipis jarak antara rasa ingin tahu terhadap dunia dan dorongan yang justru merusak stabilitas hidup seseorang.

Dalam konteks Yeiser, perjalanan bukan lagi sekadar pilihan atau pengalaman berharga, melainkan sesuatu yang mendesak dan sulit dihentikan. Di titik itulah dromomania menjadi relevan: bukan sekadar kegemaran jalan-jalan, tetapi dorongan yang bisa mengganggu fungsi hidup, relasi, dan kemampuan seseorang untuk bertahan dalam rutinitas sehari-hari.

Dari Jean-Albert Dardas hingga Dorongan Melarikan Diri

Sejarah dromomania kerap dikaitkan dengan Jean-Albert Dardas di Prancis pada abad ke-19. Ia didiagnosis oleh psikiater Philippe Auguste Tissie sebagai penderita dromomania. Dardas dikenal sering menghilang, berkeliaran tanpa tujuan yang jelas, lalu bekerja serabutan hanya untuk bertahan hidup. Kisah ini menjadi salah satu contoh klasik bagaimana dorongan untuk pergi dapat muncul dalam bentuk yang ekstrem.

Namun, dorongan untuk bepergian di masa kini tidak selalu bersumber dari gangguan klinis. Tekanan sosial, arus digital, dan budaya yang terus menampilkan kehidupan serba bergerak ikut mendorong banyak orang merasa perlu melarikan diri dari rutinitas. Di tengah situasi itu, keinginan berkelana bisa terasa seperti kebebasan, padahal bagi sebagian orang justru menjadi bentuk pelarian yang tak selesai.

Antara Wanderlust dan Dromomania

Bepergian memang bisa memberi pengalaman baru, memperluas cara pandang, dan membangun rasa percaya diri. Tetapi perbedaan antara perjalanan yang bermakna dan dromomania yang merugikan sangat jelas: yang satu dipilih dengan sadar, yang lain terasa seperti dorongan yang menguasai. Karena itu, kecanduan perjalanan tidak sesederhana cinta pada petualangan. Di baliknya, sering kali ada persoalan emosional, pencarian identitas, dan kebutuhan untuk menemukan makna yang belum tentu bisa dipenuhi oleh tempat baru mana pun.

Atribusi sumber: Source link