Suasana harap-harap cemas yang dirasakan keluarga Nurlaela berubah menjadi kabar duka dalam hitungan jam. PNS yang juga mengajar sebagai guru itu menjadi korban dalam kecelakaan antara Commuter Line dan KA Argo Bromo Anggrek di Stasiun Bekasi Timur pada Senin malam. Saat peristiwa terjadi, keluarga masih menunggu kepulangannya tanpa mengetahui bahwa malam itu akan berakhir dengan kehilangan.
Telepon yang Dijawab Orang Lain
Upaya keluarga menghubungi Nurlaela terus dilakukan karena ponselnya tak juga aktif. Namun, yang mengangkat justru bukan sang korban. Dari sambungan telepon itu, keluarga mendapat informasi bahwa ponsel Nurlaela ditemukan di sekitar lokasi kecelakaan. Kondisi itu membuat keluarga semakin panik karena keberadaan Nurlaela sendiri belum diketahui.
“Kami sudah khawatir karena belum pulang, ditelepon tidak angkat. Pas diangkat orang lain dari pihak berwenang bilang handphone ditemukan, tapi korban belum diketahui ada di mana,” ujar Mulyadi, paman korban.
Pencarian Berujung Kepastian Pahit
Setelah menerima kabar tersebut, keluarga langsung mendatangi lokasi kejadian. Pencarian dilakukan dengan harapan Nurlaela masih bisa ditemukan dalam keadaan selamat. Namun, sekitar satu jam kemudian, keluarga akhirnya memperoleh kepastian yang paling mereka takuti: Nurlaela ditemukan sudah meninggal dunia.
Jenazah korban kemudian dibawa ke rumah duka di Kampung Ceger. Menurut Mulyadi, kondisi jasad Nurlaela masih utuh meski terdapat sejumlah luka. Ia menyebut ada dugaan patah kaki serta luka dalam akibat insiden tersebut.
Duka yang Tertinggal di Rumah Keluarga
Kepergian Nurlaela meninggalkan luka mendalam bagi keluarga dan kerabat yang selama ini menantikan kepulangannya. Sosok guru yang dikenal sebagai aparatur sipil negara itu pulang bukan dengan kabar biasa, melainkan melalui kabar duka yang datang lebih dulu lewat telepon. Bagi keluarga, malam di Bekasi Timur itu menjadi momen yang sulit dilupakan.
Source link












