Kapal perang Italia ITS Giuseppe Garibaldi tiba di Indonesia dan bersandar di Dermaga 107, Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Jumat (18/9). Kapal bernomor lambung C551 itu akan menjadi kapal induk pertama dalam armada TNI Angkatan Laut (TNI AL) setelah menjalani proses serah terima dan pergantian bendera pada 24 September 2026.
Dalam armada Indonesia, kapal tersebut akan menggunakan nama KRI Sriwijaya. Sebelum resmi dioperasikan, kapal hibah itu akan menjalani pembenahan fisik serta perbaikan mesin agar dapat disesuaikan dengan kebutuhan operasi TNI AL.
Kapal induk sebagai pangkalan udara bergerak
Kapal induk pada dasarnya merupakan kapal perang yang dirancang untuk menjadi pangkalan udara bergerak di laut. Ciri utamanya bukan semata-mata ukuran yang besar, melainkan keberadaan dek penerbangan dan berbagai fasilitas yang memungkinkan pesawat atau helikopter dioperasikan dari atas kapal.
Fasilitas tersebut biasanya mencakup hanggar untuk menyimpan dan merawat wahana udara, sistem pendukung penerbangan, persediaan bahan bakar, serta sarana untuk mengatur aktivitas lepas landas dan pendaratan. Pada jenis kapal tertentu, pesawat dapat beroperasi langsung dari dek kapal, bergantung pada desain kapal dan karakteristik pesawat yang digunakan.
Karena membawa fasilitas penerbangan, kapal induk dapat mendekatkan pesawat dan helikopter ke wilayah operasi tanpa sepenuhnya bergantung pada pangkalan udara di daratan. Dalam operasi militer, kemampuan itu dapat mendukung pengawasan laut, perlindungan armada, operasi udara, hingga misi serangan sesuai kemampuan kapal dan wahana udara yang dibawanya.
Kapal induk umumnya juga beroperasi sebagai bagian dari kelompok kapal perang, bukan sendirian. Kapal-kapal dalam kelompok tersebut dapat saling memberikan perlindungan dan dukungan. Kehadiran pesawat serta helikopter di dalamnya turut memperluas kemampuan pengamatan terhadap wilayah laut yang luas.
Tidak hanya untuk operasi tempur
Fungsi kapal induk tidak terbatas pada peperangan. Dek penerbangan yang luas, kemampuan mengangkut personel dan peralatan, serta fasilitas komando dan komunikasi membuat kapal ini dapat dimanfaatkan untuk bantuan kemanusiaan dan penanggulangan bencana.
Dalam bencana yang terjadi di wilayah kepulauan dan sulit dijangkau melalui jalur darat, helikopter yang beroperasi dari kapal dapat digunakan untuk mengirim bantuan, mengevakuasi korban, atau membawa personel ke lokasi terdampak. Angkatan Laut Amerika Serikat juga mencatat pemanfaatan kapal induk untuk respons bencana dan misi kemanusiaan.
Menurut Kepala Staf TNI Angkatan Laut Laksamana TNI Muhammad Ali, Giuseppe Garibaldi akan diarahkan untuk mendukung kebutuhan operasi militer selain perang (OMSP). Kapal itu diproyeksikan menjadi pangkalan terapung bagi helikopter dan drone, sekaligus membawa personel serta logistik dalam penanganan bencana dan bantuan kemanusiaan.
Berbeda dari fregat dan kapal perusak
Fregat, korvet, dan kapal perusak juga dapat membawa helikopter, tetapi kapal-kapal tersebut sejak awal tidak dirancang sebagai pangkalan udara terapung. Pada kapal induk, dek penerbangan, hanggar, fasilitas pemeliharaan, dan sistem pendukung penerbangan menjadi bagian penting dari rancangan operasinya.
Ukuran kapal induk pun beragam. Sebagian mampu membawa puluhan pesawat tempur, sementara jenis yang lebih kecil lebih banyak digunakan untuk mengoperasikan helikopter atau pesawat yang dapat lepas landas dan mendarat secara vertikal maupun dalam jarak pendek.
Giuseppe Garibaldi sebelumnya pernah mengoperasikan pesawat tempur AV-8B Harrier II dan berbagai jenis helikopter saat digunakan Italia. Setelah masuk ke dalam armada Indonesia, penggunaannya akan disesuaikan dengan kebutuhan TNI AL, terutama untuk mendukung helikopter, drone, personel, logistik, serta operasi kemanusiaan dan kebencanaan.












