ICM Siapkan Sanksi dan Pertemuan Orang Tua
Pihak ICM menyatakan akan menindaklanjuti kasus perundungan yang terjadi di lingkungan sekolah dengan menjatuhkan sanksi kepada siswa dan pembina yang terkait. Sekolah juga akan memfasilitasi pertemuan antara orang tua serta melaporkan kejadian tersebut kepada Pokja Budaya Sekolah Aman dan Nyaman.
Langkah itu disampaikan sebagai bagian dari penanganan internal atas kasus yang melibatkan siswa di lingkungan sekolah. Selain menentukan sanksi, pihak sekolah akan menelusuri lebih jauh keberatan yang disampaikan keluarga korban terhadap respons ICM.
Tamsil mengatakan, pihaknya memahami adanya ketidakpuasan dari keluarga korban. Menurut dia, keberatan tersebut menjadi bagian yang perlu diperiksa secara lebih mendalam agar rangkaian penanganan perkara dapat dipahami dengan jelas.
“Saya juga memahami adanya keberatan dari pihak keluarga korban terkait respons sekolah, dan itulah yang akan kami telusuri lebih dalam,” ujar Tamsil.
Pelaporan kepada Pokja Budaya Sekolah Aman dan Nyaman menjadi salah satu langkah yang akan dilakukan ICM dalam merespons kasus tersebut. Sementara itu, pertemuan ant orang tua diharapkan menjadi bagian dari proses penyelesaian yang melibatkan pihak-pihak terkait.
ICM Tegaskan Kesetaraan Perlakuan bagi Siswa
Di tengah penanganan kasus itu, Tamsil menegaskan bahwa setiap siswa harus diperlakukan berdasarkan aturan yang sama. Ia menyebut prinsip tersebut berlaku dalam menangani persoalan anak di sekolah, tanpa mempertimbangkan latar belakang keluarga maupun hubungan personal.
Menurut Tamsil, ICM sejak awal didirikan sebagai sekolah terbuka bagi anak-anak dari berbagai latar belakang. Keterbukaan itu, kata dia, juga diwujudkan melalui program beasiswa penuh dan uang saku bulanan bagi siswa dari kalangan dhuafa. Program tersebut dijalankan ICM bersama lembaga pengelola zakat nasional.
Ia menegaskan bahwa status sosial maupun hubungan orang tua tidak boleh menjadi pertimbangan dalam penanganan masalah siswa. Setiap anak yang berada di lingkungan sekolah harus mengikuti ketentuan yang berlaku.
“Prinsip saya sederhana, begitu seorang anak masuk gerbang sekolah, ia tunduk pada aturan yang sama. Identitasnya cuma satu, sebagai pelajar yang ingin tumbuh dan berkembang bersama ICM. Terlepas dari siapa pun orang tuanya,” kata Tamsil.
Ia melanjutkan, relasi personal, jabatan, maupun kedekatan politik tidak memengaruhi cara sekolah menangani persoalan seorang anak. Menurutnya, keputusan harus didasarkan pada fakta, aturan, dan kepentingan terbaik bagi anak.
“Ukurannya adalah fakta, aturan, dan kepentingan terbaik bagi anak,” tegasnya.
Dengan rencana pemberian sanksi, pertemuan ant orang tua, serta pelaporan kepada Pokja Budaya Sekolah Aman dan Nyaman, ICM menyatakan proses penanganan kasus perundungan masih akan ditelusuri lebih lanjut, termasuk menanggapi keberatan dari keluarga korban mengenai respons sekolah.












