Alasan Pencopotan Ahmad Sahroni dari Pimpinan Komisi 3 DPR: Karena Mengabaikan Demonstran
Pencopotan Ahmad Sahroni dari posisi pimpinan Komisi 3 DPR memicu sorotan publik, terutama karena keputusan itu datang di tengah derasnya kritik atas pernyataannya yang dinilai meremehkan suara masyarakat. Sahroni sebelumnya menuai kecaman setelah menyebut pihak yang menyerukan pembubaran DPR sebagai “orang tolol sedunia”. Ucapan itu dilontarkannya saat berkunjung ke Polda Sumatera Utara, ketika isu pembubaran DPR sedang ramai dibicarakan di media sosial.
Pernyataan yang memicu gelombang kritik
Dalam tanggapannya, Sahroni menegaskan bahwa DPR tetap terbuka terhadap kritik. Namun, ia menilai tuntutan untuk membubarkan lembaga legislatif tidak masuk akal. Alih-alih meredakan suasana, komentar tersebut justru memperlebar jarak dengan publik. Banyak warganet menilai pernyataan itu terdengar arogan dan tidak sensitif terhadap kegelisahan masyarakat yang sedang menyampaikan aspirasi.
Respons publik semakin keras
Gelombang protes tak berhenti di media sosial. Kolom komentar akun Instagram Sahroni dipenuhi kritik dari netizen yang merasa tersinggung dengan ucapannya. Bagi sebagian orang, masalah ini bukan sekadar soal pilihan kata, melainkan sikap seorang wakil rakyat yang dianggap gagal menangkap pesan dari demonstran maupun warga yang kecewa terhadap DPR. Reaksi keras tersebut kemudian ikut memperkuat tekanan publik terhadap posisinya di parlemen.
Dampak politik dari ucapan yang dianggap meremehkan
Kasus ini menunjukkan bahwa satu pernyataan tajam bisa berubah menjadi beban politik yang serius. Di tengah meningkatnya sensitivitas publik terhadap perilaku pejabat, ucapan Sahroni dinilai tidak hanya memancing emosi, tetapi juga memperburuk citra DPR di mata masyarakat. Source link












