Institusi Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) mendapat apresiasi atas responsibilitas dan kecepatan dalam menyelidiki penyebab bencana banjir dan longsor di sejumlah wilayah di Sumatra. Menurut Lingkar Linguistik Nusantara (Lilin Nusantara), langkah Kapolri menunjukkan komitmen dalam menangani bencana dengan lebih dari sekadar mencatat “cuaca ekstrem” sebagai pemicu, namun juga mencakup aspek hukum terhadap aktivitas ekonomi yang merusak lingkungan, seperti kegiatan ilegal yang merugikan hutan dan aliran sungai.
Dalam diskusi publik di Jakarta, Direktur Lilin Nusantara, Mas Uliatul Hikmah, memberikan apresiasi terhadap Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo atas langkahnya yang menyelidiki akar permasalahan banjir di Sumatera. Menurutnya, penyelidikan tersebut adalah langkah maju dalam cara negara menanggapi bencana ekologi.
Lilin Nusantara menekankan pentingnya dalam dua pesan yang disampaikan oleh Kapolri. Pertama, bahwa negara hadir untuk mendampingi warga terdampak. Kedua, bahwa negara siap untuk menyelidiki tindakan kriminal yang berkontribusi pada kerentanan ekologis.
Apresiasi juga diberikan terhadap reformasi Polri yang diwujudkan melalui evakuasi, pengamanan wilayah terdampak, dan investigasi terhadap aktivitas ilegal yang berujung pada peristiwa banjir. Lilin Nusantara menilai bahwa tindakan nyata ini membuktikan bahwa reformasi Polri bukan hanya sebatas slogan, namun juga aksi konkret yang berdampak langsung pada keselamatan masyarakat.
Namun, Uliatul Hikmah juga menyoroti pentingnya penggunaan bahasa yang tepat dan konsisten dalam narasi resmi. Dia menegaskan bahwa apresiasi terhadap Polri seharusnya ditemani dengan tuntutan agar bahasa yang digunakan konsisten dengan upaya reformasi struktural.
Lilin Nusantara juga menyoroti perlunya peningkatan tata kelola hutan, penegakan hukum terhadap pelaku utama kejahatan lingkungan, serta peran aktif korban dan komunitas lokal dalam proses penyusunan kebijakan pasca bencana. Dalam hal ini, diskusi publik dianggap sebagai ruang penting untuk mendiskusikan serta mengevaluasi bahasa kekuasaan yang digunakan.
Secara keseluruhan, Lilin Nusantara berharap masyarakat dapat membaca narasi negara dengan lebih kritis, sehingga dukungan terhadap reformasi Polri dapat terus tumbuh melalui konsistensi antara kata-kata yang diucapkan dan tindakan yang dilakukan.












