Isu lingkungan kembali mendapat sorotan lewat pernyataan Hasto yang menekankan bahwa kepedulian terhadap alam bukan sekadar slogan, melainkan kebiasaan yang harus dibangun dari contoh sehari-hari. Dalam pandangannya, sikap Megawati yang menjaga lingkungan bisa menjadi rujukan konkret, termasuk kebiasaan sederhana seperti menyimpan kulit kacang untuk diberikan ke tanaman karena dinilai mengandung kalium.
Teladan Merawat Bumi dari Kebiasaan Kecil
Hasto menggambarkan bahwa menjaga lingkungan tidak selalu dimulai dari langkah besar. Justru, kebiasaan-kebiasaan kecil seperti memanfaatkan sisa organik untuk tanaman menunjukkan cara pandang yang lebih menghargai alam. Dari situ, ia mengaitkan nilai-nilai merawat pertiwi yang diwariskan Bung Karno dan diteruskan Megawati sebagai fondasi penting dalam memperlakukan bumi.
Menurutnya, pohon bukan sekadar objek yang berdiri diam di sekitar manusia, melainkan bagian dari kehidupan yang patut dihormati. Karena itu, menjaga pohon dipandang sebagai bentuk cinta terhadap alam. Cara pandang ini, kata Hasto, perlu terus dihidupkan agar kepedulian lingkungan tidak berhenti pada seremoni atau kampanye sesaat.
Kerusakan Alam Tak Lepas dari Ketidakadilan
Di sisi lain, Hasto menyoroti bahwa kerusakan lingkungan lahir dari sistem yang timpang. Ia mencontohkan alih fungsi kawasan hutan menjadi perkebunan sawit sebagai salah satu bentuk perubahan tata kelola lahan yang berdampak besar pada alam. Dalam pandangannya, persoalan lingkungan tidak bisa dilepaskan dari cara negara mengatur dan menguasai sumber daya.
Ia juga mengaitkan bencana alam dengan minimnya keadilan dalam penguasaan lahan serta lemahnya penegakan hukum terhadap tambang ilegal dan pembalakan liar. Selama praktik-praktik itu dibiarkan, kerusakan akan terus berulang dan beban paling berat justru ditanggung masyarakat.
Redistribusi Aset sebagai Jalan Perbaikan
Hasto menegaskan bahwa perbaikan lingkungan harus berjalan seiring dengan pembenahan struktur penguasaan aset. Ia menyebut redistribusi aset sebagai gagasan yang sejak lama dicita-citakan Bung Karno, terutama untuk menghadirkan keadilan dalam pengelolaan tanah dan sumber daya. Dengan cara itu, upaya konservasi tidak hanya berhenti pada ajakan moral, tetapi juga menyentuh akar persoalan yang selama ini memicu kerusakan alam.
Source link












