Berita  

Perluasannya Abu Vulkanik Anak Krakatau: Pantau Kualitas Udara

Kualitas Udara di Sumatera Selatan Buruk Akibat Abu Vulkanik Anak Krakatau

Kondisi Meningkat, Masyarakat Diminta Waspada

Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) terus memantau sebaran abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK). Plt Deputi Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan KLH/BPLH, Noer Adi Wardoyo, menekankan pentingnya tetap waspada seiring dengan meluasnya dampak abu vulkanik tersebut.

Noer Adi mengatakan, “Kondisi saat ini menunjukkan peningkatan yang membutuhkan kewaspadaan ekstra seiring dengan meluasnya dampak abu vulkanik Gunung Anak Krakatau. Kami di KLH/BPLH berkomitmen untuk memastikan keselamatan dan kesehatan masyarakat tetap terjaga.”

Sistem Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) Menunjukkan Perbedaan Signifikan

Hingga Minggu (6/9/2026) pukul 14.00 WIB, ISPU mencatat perbedaan kondisi udara yang cukup signifikan antar-wilayah. Di Jakarta GBK, angka ISPU mencapai 64, sedangkan di berbagai wilayah lain seperti Serang Sumurpecung (85), dan Tangerang Pasir Jaya (65) menunjukkan kondisi udara yang tidak sama.

Di Sumatera Bagian Selatan, terutama di beberapa titik, kualitas udara telah mencapai level Sangat Tidak Sehat akibat parameter kritis PM2.5. Misalnya, di Palembang Bukit Kecil (216), Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (237), dan Kabupaten Ogan Ilir (213).

Noer Adi juga menyebutkan bahwa kebakaran hutan dan lahan juga turut memperburuk kualitas udara di Sumatera Bagian Selatan. Selain itu, KLH/BPLH masih terus mengkaji hubungan langsung antara peningkatan partikulat udara dengan erupsi Gunung Anak Krakatau untuk mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam.

Source link